DIHIMPUN berbagai sumber, Anak Krakatau ‘lahir’ pada 11 Juni 1927 dengan komposisi magma basa muncul di pusat kompleks Krakatau.
Kelahiran Anak Krakatau ini hanya berjarak sekitar 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau pada Agustus 1883. Saat itu letusan Krakatau bersama letusan Gunung Tambora (1815) disebut-sebut mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. Bahkan The Guinness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.
Letusan Krakatau
Erupsi Krakatau pada 1883 itu disebut sebagai ledakan yang paling besar, paling keras, dan peristiwa vulkanik yang paling meluluhlantakkan dalam sejarah manusia modern.

Letusan Gunung Krakatau
Suara letusannya terdengar sampai 4.600 kilometer dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.
Krakatau memulai erupsi besarnya pada Mei 1883. Saat itu terdengar dentuman keras selama beberapa jam di Batavia (Jakarta), Bogor, Purwakarta, Palembang, hingga Singapura. Terlihat asap setinggi 11 kilometer dan debu vulkanik yang dibawa angin sejauh 550 kilometer.
Erupsi kembali terjadi pada 26 Agustus 1883. Krakatau meletus dengan magnitudo 6 skala VEI. Esok harinya pukul 10.02 WIB, erupsi paling dahsyat terjadi. Letusannya menciptakan kaldera bawah laut selebar 7 kilometer dan kedalaman mencapai 250 meter.
Letusan Krakatau ini juga menciptakan gelombang tsunami setinggi 30 meter. Jalaran tsunami terjauh mencapai Port Elizabeth di Afrika Selatan.
Selama 20 jam 50 menit setelah letusan pertama, Krakatau masih mengamuk. Tubuh gunung lalu ambruk ke dasar laut, memicu tsunami yang menghancurkan pesisir Banten dan Lampung, menghabiskan sekitar 163 desa. Jumlah korban tewas tercatat mencapai 36.417 orang.
Kekuatan Erupsi setara 21.574 bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki. Jutaan kubik abu vulkanik menyebabkan gelap berkepanjangan dan menyebabkan bencana susulan lain seperti kegagalan panen dan kelaparan, wabah penyakit, hingga pemberontakan Petani Banten 1888.
Gunung Raksasa yang Baru Ditemukan
Kabar mengejutkan datang dari Tim yang terdiri dari gabungan para pakar geologi Indonesia, AS, dan Perancis. Tim ini berhasil menemukan gunung api raksasa di bawah perairan barat Sumatera.
Gunung Api Raksasa yang baru ditemukanGunung api tersebut berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter dan berada 330 km arah barat Kota Bengkulu. Para ahli geologi ini berasal dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, CGGVeritas dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris.
“Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia, tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua,” kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surachman kepada wartawan di Jakarta, Kamis (28/5).
Gunung api bawah laut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatera, 330 km dari Bengkulu, di kedalaman 5,9 km dengan puncak berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut. Meskipun gunung ini diketahui memiliki kaldera yang menandainya sebagai gunung api, para pakar mengaku belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api bawah laut ini.
Lalu Tingkat Bahayanya Bagaimana?
“Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus,” katanya.
Ditunjang posisi Gunung di dalam air, ditakutkan bisa mengakibatkan gelombang tsunami yang sangat tinggi dan massif bila gunung ini meletus. Survei yang menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas itu adalah yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik.

Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50 km) yang meliputi Palung Sunda, prisma akresi, tinggian busur luar (outer arc high), dan cekungan busur muka (fore arc basin) perairan Sumatera. Sejak gempa dan tsunami akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, terjadi banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatera yang menarik minat banyak peneliti asing.Erupsi Gunung Anak Krakatau
Tim ahli dari Indonesia, AS, dan Perancis kemudian bekerja sama memetakan struktur geologi dalam untuk memahami secara lebih baik sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam.

0 Response to "Lebih Berbahaya dari Krakatau, Inilah Gunung Api Raksasa Sumatera Setinggi 4,6 KM yang Baru Ditemukan"
Post a Comment